Not Everything is Same as It Seems
Mohon maaf sebelumnya jika terdapat kata-kata dalam artikel yang menyinggung perasaan Pembaca. Tapi semoga ini juga dapat membantu Anda untuk melihat begitu banyak variasi dalam hidup. Semoga berkenan.
***
Dalam kondisi Anda membawa uang kecil dan pergi bersama teman kantor, apakah yang Anda pikirkan dan lakukan ketika melihat pengemis meminta-minta kepada Anda di perempatan jalan?
- Merasa kasihan tapi tidak memberikan uang karena juga berpikir bahwa orang itu hanya mengemis saja, tidak mau berusaha untuk bekerja.
- Merasa kasihan tapi tidak memberikan uang karena takut akan dianggap “sok” baik oleh teman kantor.
- Tidak merasa kasihan tapi memberikan uang agar dianggap dermawan oleh teman kantor.
- Tidak merasa kasihan dan diam saja.
- Merasa kasihan dan langsung memberikan uang tanpa pikiran yang macam-macam (tulus).
- Lainnya.
Bagaimana pandangan Anda terhadap seorang yang membawa mobil mewah?
- Dia merupakan orang yang kaya.
- Dia merupakan seorang sopir yang ingin menjemput atau selesai mengantarkan orang yang mengkaryakannya.
- Lainnya.
Bagaimana pandangan Anda terhadap seorang tukang becak?
- Orang yang mau tetap semangat dan berusaha demi menafkahi keluarganya.
- Orang yang memiliki sedikit uang
- Orang yang bersahaja
- Lainnya.
Begitu banyak pilihan, pikiran, kebaikan, kepura-puraan, kesederhanaan dan pemborosan dalam hidup. Maksud hati ingin membantu, tapi karena ada faktor lingkungan kita tidak jadi membantu. Maksud hati biasa saja, tapi karena ada faktor lingkungan kita jadi membantu (entah itu secara tidak tulus, maupun tulus). Semua hal yang dilihat belum tentu merupakan hal yang sebenarnya, not everything is same as it seems. Kita tidak melihat kehidupan dia atau mereka secara keseluruhan. Kita hanya (bisa) melihat sebagian (kecil) dari sesuatu yang dimiliki atau diperlihatkan.
Lalu apakah Anda melihat bahwa semua tukang becak merupakan seseorang yang memiliki sedikit uang saja? Kita tidak dapat meng-generalisasi-kannya. Mungkin Anda pernah mendengar dan membaca adanya tukang becak, buruh tani, atau pengemis yang ternyata mampu membawa (semua) anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan hingga tingkat Strata 1 Kedokteran, Arsitek, Komputer dan lain sebagainya dengan hasil pekerjaannya sendiri. Bagaimana mungkin? Saya sendiri juga tidak tahu, tapi mungkin saja ada di antara mereka yang penghasilannya digunakan untuk mengikuti asuransi pendidikan, atau juga hal lainnya. Atau bisa saja, oleh karena keterbatasannya anak tersebut bekerja keras mengumpulkan banyak uang, tidak untuk dihambur-hamburkan atau sebagai modal kerja, tapi untuk mengenyam pendidikan agar kehidupan masa depannya, keluarga kandungnya, atau keluarga yang akan dibinanya lebih baik.
Semua yang terlihat belum tentu bersifat sesuai dengan kenyataaan yang ada. Penampilan dapat menipu. Sebagai contoh mungkin orang yang belum mengenal Bob Sadino, seorang pengusaha bidang pertanian (peternakan), akan menganggap dia sebagai seorang yang aneh, gila dan lain sebagainya karena senang bepergian dengan menggunakan celana pendek. Tapi itulah variasi dalam hidup. Setiap orang berusaha agar keinginannya tercapai, entah itu keinginan untuk “eksis” di lingkungan pergaulannya, atau keinginan untuk hidup dengan lebih baik, meski “keeksisan”-nya dalam pergaulan menjadi sedikit berkurang.
Orang yang terlihat buruk di mata orang lain belum tentu buruk. Orang yang terlihat bodoh di mata orang lain belum tentu bodoh. Orang yang terlihat berkekurangan di mata orang lain belum tentu kekurangan. Not everything is same as it seems. Namun, apabila yang terjadi memang demikian, kita tidak dapat mengetahui kejadian di esok hari, esok bulan, atau esok tahun, semua dapat berubah. Bagi Anda yang percaya, ada Hal yang telah mengatur kehidupan kita. Be proud, keep energetic, keep fight, keep tough, and have a nice cheers, all of You. God bless.
***
Mohon maaf jika terdapat kata-kata dalam artikel yang menyinggung perasaan Pembaca. Tapi semoga ini juga dapat membantu Anda untuk melihat begitu banyak variasi dalam hidup.




Sebulan sudah Minggo merantau di bawah langit kota Jakarta. Rasa sepi terasa di awal perantauan di Jakarta. Masih jaim sama temen-temen di kantor yang baru; sikap alim, serius, dan tampang malaikat diperlihatkan. Di kantor belum ada kerjaan, dan di kos cuma ada hiburan terbatas; komputer, koneksi internet. Waktu itu koneksi internet yang dipakai masih lambat, jadi “hiburan” video masih belum diakses, meskipun baru sedang musim. Pingin beli sesuatu yang bisa buat hiburan, tapi perlu dipikir-pikir lagi, Agustus-September 2010 besok perlu “nyumbangin” uang, demi menyambung sesuap nasi (dengan Dimsum, Spagheti, Pizza, Shabu-shabu/steamboat, dll * [* tapi tetep, pecel lele is the best]).